Sabtu, 16 November 2013

CINTA MASIH PENDING


            Aku melihat benda bulat diangkasa seakan mengulas kembali ingatanku tentang seseorang yang pernah menjadi Matahari di pagiku dan Bintang dimalamku. Seseorang yang mungkin membuatku hanyut dalam merdunya irama cinta saat itu. itu kamu, sayang. Dulu kita sering dibuliin oleh kakak dan abang kita karena pacaran tetanggaan itu adalah suatu hal yang lucu. Tapi tidak buat kita kan? Menurutku itu romantis. Kita bisa lebih sering berduaan setiap harinya. Kita lebih mudah untuk bertatapan muka dibalik jendela kamar kita. Sweet banget yah.
            Aku ingat beberapa momen indah, rasanya baru kemarin aku rasakan. aku senang sayang. Aku merasakan hangatnya tanganmu membungkus erat kedua jemariku. Aku nyaman. Setiap detik sentuhanmu membuatku ingin menghentikan jarum jam, lalu memutar berulang-ulang detik itu sesuka hatiku. Taukah kau waktu itu jantungku berdegup tak tentu? Seakan ada petasan didalam organ tubuhku meronta-ronta ingin keluar. Taukah kau darahku meluncur sangat deras? Memaksa masuk dalam organ-organ tubuhku.
            Kamu.. Cinta pertamaku.. Tetanggaku.. Sayangku.. bolehkah aku meminta selamanya begini? aku nyaman. Aku nyaman ketika kau belai rambutku dengan sentuhan jemarimu. Lalu kamu membisikkan lembut “I Love You” ditelingaku. Taukah kamu? Saat itu aku mematung. Seluruh organ tubuhku lumpuh seketika. Aku kaku. Sulit untuk bernafas lega. Dadaku sesak. 
            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sudah entah berapa lama kita memutuskan untuk tak bersama lagi. Iyaa sejak Ayahmu pindah tugas dan kamu juga ikut ibumu. Jarak seakan menjadi pemeran antagonis dalam hubungan kita. Aku sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama bayangmu. Banyak kenangan indah yang tersimpan ditempat ini. Iya, semuanya terasa sepi.
            Akhir-akhir ini aku seakan melihat sosokmu di sana. Sosok yang tak asing bagiku. Itu kamu. Oh ia kalung salib pemberianmu masih kusimpan, masih sering kukalungkan dileherku ketika aku kangen padamu. Kalung salib yang kau berikan sebagai tanda perpisahan untukku, aku ingat itu sayang?
            Jikalau boleh, aku masih ingin menemuimu. Masih ingin merasakan genggaman tangan itu. Masih ingin mendengar tiga kata itu. Aku masih ingin mendengarmu memanggilku sayang. Bolehkah?